http://wanitawanita.com/2013/03/kearifan-lokal-orang-rote/

 yoseph-yapi-taum

WANITAWANITA.com — Pulau Rote terletak di lepas pantai ujung barat daya Pulau Timor di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana kondisi alam NTT pada umumnya, Rote adalah sebuah pulau yang gersang, tandus, dan miskin sumber daya alamnya dengan musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang.

Mata pencaharian penduduknya cukup beragam, mulai dari berkebun, beternak, dan nelayan lepas pantai. Akan tetapi perekonomian masyarakatnya lebih berpusat pada pohon lontar dan pembuatan gula nira, yang mampu memberikan keuntungan ekonomis lebih besar daripada apa yang diperoleh suku-suku lain di sekitarnya yang pertaniannya sudah mencapai titik jenuh.

Menurut cerita rakyat setempat, leluhur orang Rote bersama leluhur orang Belu berasal dari Sera Sue do Dai Laka atau Seram di Maluku. Mereka datang berkelompok, sebagiannya melalui Flores dan yang lainnya melalui Timor (Mubyarto, 1991; Parera, 1994: 38; Fox, 2007). Pola perkampungan (nusak) dibentuk berdasarkan kelompok kekerabatan (klen) yang mereka sebut Leo dengan pemimpin (Manek) yang disebut Manelo. Leo-leo ini tinggal di dalam komunitas-komunitas wilayah terotorial genealogis yang disebut nusak. Masing-masing nusak mengembangkan suatu budaya yang khas, termasuk di dalamnya bahasa. Bahasa-bahasa itu kadang-kadang sulit dipahami oleh warga dari nusak lain.

Bangga pada Identitasnya

Orang-orang Rote adalah orang yang bangga akan diri mereka sendiri, tegas, dan bersemangat (Fox, 1986:164). Mereka tidak meniru-niru dan tidak berasimilasi dengan kelompok-kelompok lain di NTT melainkan dengan kelompok yang mereka anggap lebih tinggi kebudayaannya. Pakaian adat sebagai tanda pembeda identitas orang Roti sangat khas dan menunjukkan pengaruh Portugis abad ke-17 dan Gujarat abad ke-18. Jika pakaian adat kaum pria suku-suku di Indonesia Timur mengenakan ikat kepala, orang Roti memakai topi daun lontar lebar seperti sombrero yang mereka tiru dari topi orang Portugis abad ke-17.

Motif kain celup ikat tradisional mereka merupakan gabungan motif-motif asli dengan disain patola yang diambil dari kain Gujarat yang merupakan barang dagangan impor kaum elit VOC pada abad ke-18. Orang Rote juga memiliki instrumen musik tradisional yang sangat khas yang disebut Sasando. Alat musik yang juga dikenal di Pulau Sabu ini dibuat dari daun lontar. Alat ini biasa dimainkan dalam berbagai kegiatan sosial yang penting seperti pernikahan, kematian, kelahiran, dan ulang tahun.

Bahasa Melayu sudah dikenal oleh sebagian besar orang Rote sejak sekitar tahun 1660, di mana penguasa-penguasa Rote memulai surat-menyurat tahunan dengan gubernur jenderal VOC di Batavia. Sejak semula, Bahasa Melayu diterima sebagai bahasa sastra yang dikaitkan dengan agama Kristen dan berkembang varian bahasa Melayu Alkitab. Bahkan bahasa Melayu Kupang memperlihatkan pengaruh bahasa Rote yang sangat besar (Fox, 1986: 170).

Situasi Pulau dan budaya Rote berbeda dengan tetangganya Pulau Sabu yang homogen. Masyarakat Rote telah berabad-abad terbiasa untuk menerima perbedaan. Hidup dalam suasana heterogenitas atau keberagaman diterima sebagai sesuatu yang baik. Dalam sejarah pemukiman mereka, para pendatang baru yang hendak bermukim di wilayahnya diterima dengan upacara penyambutan yang luar biasa. Kalaupun para pendatang baru itu menunjukkan perbedaan identitas dan pandangan hidup, mereka menganggapnya sebagai sebuah kekayaan. Orang Rote bahkan tak bosan-bosannya membicarakan perbedaan-perbedaan di antara nusak-nusak (wilayah kekuasaan) dan dialek-dialek yang ada. Di Rote terdapat 18 nusak yang diperintah oleh seorang manek (raja kecil) yang mengetuai sidang pengadilan dan membuat keputusan-keputusan berdasarkan hukum adat nusak itu.

Di antara mereka sendiri orang Rote menekankan perbedaan-perbedaan sosial yang kecil daripada menekankan kesamaan-kesamaan yang menyeluruh (Fox, 1986:174). Perbedaan-perbedaan kecil cenderung diangkat untuk menunjukkan keterpisahan di antara mereka. Bukankah cara ini mudah menyulut api konflik dan pertikaian? Bagi masyarakat Rote, perbedaan di antara mereka justru menunjukkan identitas dan kebanggaan akan harga diri yang tidak perlu mendatangkan pertentangan. Masyarakat Rote memiliki basis sosial yang kuat dalam berdemorasi. Hal ini menguntungan bagi proses konsolidasi sistem politik dalam konteks Indonesia yang menghargai kemajemukan.

Kecerdasan Akal

Secara prinsip, pertikaian fisik merupakan suatu hal yang dipandang rendah oleh orang Rote. Salah satu tema pengikat penting dalam hampir semua kisah pembentukan nusak, penaklukkan wilayah, penyatuan klen-klen dalam sistem pemerintahan, kejayaan serta kegagalan para pemimpin Rote adalah: kecerdasan akal. Dapat disebutkan bahwa keterampilan dan kecerdasan mengolah akal budi dan menyusun berbagai strategi dan siasat merupakan salah satu keutamaan terpenting masyarakat Rote. Yang dimaksudkan dengan kecerdasan akal di sini adalah semacam kecerdikan yang mengandung jebakan—yang sejajar dengan pengertian Melayu tentang akal. Penaklukkan, kekuasaan, dan keperkasaan tidak didasarkan pada kekuatan (power) melainkan dengan cara jebakan, tipu daya pikiran –adalah sifat yang dikagumi orang Rote. Pahlawan sebagai ‘orang yang banyak akalnya’ merupakan tema yang pervasif dalam cerita rakyat Rote dan mencerminkan suatu citra positif yang dimiliki orang Roti tentang diri mereka sendiri. Ketika cerita ‘yang relatif baru’ tentang Abu Nawas menyebar sampai ke Rote, sebutan ‘Aba Nabas’ bagi seorang Rote akan diterima sebagai suatu pujian. Tokoh ‘Aba Nabas’ dikagumi sebagai orang yang banyak akalnya, melewati berbagai tantangan dengan sukses karena kecerdasan akalnya. Dalam masyaraat Rote, cerita-cerita ‘Aba Nabas’ sangat populer, sangat dihargai dan selalu dipandang sebagai salah satu ‘cultural hero’ yang merefleksikan keutamaan hidup orang Rote sendiri.

Sebagai orang yang mengutamakan olah akal budi, penyusunan strategi serta siasat, manusia Rote dikenal sebagai masyarakat yang tidak mengenal konsep kata “Ya!” Mereka bukanlah orang yang mudah menyetujui sesuatu hal tanpa didahului dengan penalaran (reasoning) bahkan perdebatan. Masyarakat Rote mengenal dan memiliki konsep kata “Tetapi” (Tebu). Hal ini sangat berpengaruh dalam norma-norma kehidupan mereka. Di dalam kesehariannya, orang Rote selalu mempertanyakan kegunaan maksimal dari hal-hal yang diperintahkan kepada mereka (Mubyarto, 1991: 70). Konsep ini dapat pula menjadi salah satu mekanisme pertahanan diri mereka dari unsur-unsur yang datang dari luar, bukan untuk ditolak mentah-mentah melainkan untuk dipertanyakan kegunaan maksimalnya. Masyarakat Rote terkenal sebagai orang-orang yang sangat kritis karena kecerdasan akal merupakan salah satu keutamaan yang dianggap penting oleh komunitas etnis ini.

Suksesi sebagai Regenerasi yang Wajar

Orang Rote memiliki pandangan yang khas mengenai pergantian kepemimpinan. Dalam banyak komunitas lain, suksesi seringkali ditandai dengan intrik-intrik politik, persekongkolan, bahkan tidak jarang terjadi kudeta berdarah. Pandangan orang Rote mengenai pergantian kepemimpinan dapat kita amati dari puisi lisan mereka yang disebut Bini. Seluruh komunitas Rote mengenal nyanyian dengan bahasa ritual formal yang disebut Bini. Khazanah Bini seringkali mengungkap dasar-dasar kebudayaan Rote. Bini berikut ini mengungkapkan sebuah filosofi penting orang Rote dalam interaksi sosial yang formal, khususnya pandangan mereka tentang suksesi kepemimpinan.

1. Lole faik ia dalen

2. Ma lada ledok ia tein na

3. Lae: tefu ma-nggona lilok

4. Ma huni ma-lapa losik.

5. Tefu olu heni nggonan

6. Ma huni kono heni lapan,

7. Te hu bei ela tefu okan

8. Ma huni hun bai.

9. De dei tefu na nggona seluk

10. Fo na nggona lilo seluk

11. Ma dei huni na lapa seluk

12. Fo na lapa losi seluk. Pada hari yang baik ini

Dan pada saat yang baik ini (mataharinya)

Mereka berkata: Tebu itu memiliki pelepah emas

Dan pisang memiliki bunga tembaga.

Pelepah tebu itu jatuh

Dan bunga pisang rontok,

Yang masih tinggal hanya akar tebu

Dan juga batang pisang.

Tetapi tebu itu berpelepah kembali

Pelepahnya emas lagi

Dan pisang itu berbunga lagi

Bunganya tembaga lagi.

Bagi orang Rote, pergantian pemimpin merupakan sebuah hal yang wajar dan alamiah. Regenerasi itu akan berlangsung dengan damai bila memenuhi dua kondisi: (a) generasi muda mengakui jasa pendahulunya (Tebu itu memiliki pelepah emas//Dan pisang memiliki bunga tembaga), tetapi sebaliknya (b) generasi yang lebih tua pun dituntut untuk percaya pada kemampuan generasi penggantinya (yang pelepahnya emas lagi//bunganya tembaga lagi). Perhatikan konsep “tetapi” dalam ungkapan tersebut. Ungkapan ini menunjukkan pentingnya saling memberikan penghormatan, yang muda terhadap yang tua dan yang tua terhadap yang muda. Jadi, tuntutan itu tidak saja diberikan kepada kaum muda untuk menghormati yang lebih tua (seperti dalam masyarakat yang masih berciri feodalistik).

Kesimpulan

Sebagai penutup tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa pola berpikir positif orang Rote, yang membuat komunitas ini memiliki eksistensi diri adalah: (1) bangga akan identitas diri sendiri sebagai dasar untuk hidup dalam masyarakat majemuk; (2) memenangkan persaingan dengan ‘pikiran/konsep’ lebih mulia daripada dengan kekuatan (power) yang hanya mendatangkan pertumpahan darah dan air mata; (3) pergantian pemimpin harus diterima sebagai sebuah hal yang wajar; (4) para pendatang diterima dengan baik melalui sebuah ritual penyambutan.

Bahan Bacaan

Fox, James J., 1986. Bahasa, Sastra dan Sejarah: Kumpulan Karangan Mengenai

Masyarakat Pulau Roti. Jakarta: PT Djambatan.

Fox, James J., 2007. “Rotinesse: History and Cultural Relations.” Dalam http://www.everyculture.com/East-Southeast-Asia/Rotinese-Religion-and-Expressive-Culture.html. Didownload tanggal 9 April 2007.

Koentjaraningrat, 1977. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Mubyarto, dkk., 1991. Etos Kerja dan Kohesi Sosial Masyarakat Sumba, Rote, Sabu dan

Timor Propinsi Nusa Tenggara Timur. Yogyakarta: P3PK – UGM.

Parera, ADM., 1994. Sejarah Pemerintahan Raja-raja Timor: Suatu Kajian Peta Politik

Pemerintahan Kerajaan-kerajaan di Timor Sebelum Kemerdekaan RI. Jakarta:

Pustaka Sinar Harapan.

Vatter, Ernst. 1984. Ata Kiwan. Diterjemahkan dari Ata Kiwan Unbekannte Bergvolker

Im Tropicchen Holland oleh S.D. Sjah. Ende: Nusa Indah.

Oleh: Yoseph Yapi Taum

Biodata: Drs. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, dosen di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Menamatkan pendidikan S2 di Jurusan Sastra Indonesia dan Jawa Program Pascasarjana UGM tahun 1995 dengan tesis Tradisi dan Transformasi Cerita Wato Wele-Lia Nurat dalam Sastra Lisan Flores Timur. Sebagian tesisnya diterbitkan Yayasan Obor bekerjasama dengan ATL. Selama 1990 – 1999 menjadi dosen di FKIP Universitas Timor Timur, Dili. Selama 2003 – 2004 memperoleh beasiswa Asian Scholarship Foundation (ASF) untuk meneliti Collective Cambodian Memories of Pol Pot Khmer Rouge Regime di Kamboja.