http://wanitawanita.com/2013/04/ths-thm-tingkatkan-seni-bela-diri/

71462_3231396347005_1329516365_32340680_2125420957_n

Wanita wanita — Dalam rangka meningkatkan pelayanan Pastoral di tubuh Gereja Katolik Roma, kelompok Organisasi Bela Diri Pencak Silat Tunggal Hati Seminari- Tunggal Hati Maria (THS-THM) Distrik Jakarta, bersama pengurus Koordinator Nasional (Kornas) mengadakan latihan bersama dalam rangka Pra Kaderisasi, Pra Ujian Kenaikan Tingkat (UKT), dan Pra Pelatih yang berlangsung di halaman depan Gereja Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu pekan kemarin.

“Seni Bela Diri itu, gerakan dari naluri untuk mengalahkan lawan. Di benua Asia, seni bela diri itu hanya terdapat di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Hingga kini, telah menyebar ke seluruh negara di dunia, termasuk THS-THM. Di sinilah, THS-THM terpanggil untuk lebih meningkatkan seni Bela Diri. Karena selama ini dalam pertandingan pencak silat, seni belum terlalu ditonjolkan. Yang lebih ditonjolkan adalah fisik. Ketika seni-nya bagus, maka pesilat telah memenangkan pertandingan. Seni-lah yang berbicara, bukan fisik,” tegas Thomas Bolly, salah satu pelatih, pengurus Kornas dan angkatan I ketika memberikan materi tentang Pra UKT, Pra Kaderisasi dan Pra Pelatih kepada anggota THS-THM.

Dikatakannya,  dalam Ilmu Bela Diri terdapat 4 bentuk pembinaan Bela Diri yakni olahraga, seni bela diri, Mental dan spiritual. Namun, terselip juga 8 aspek pendukung lainnya dalam pertandingan, yakni bentuk ketepatan/ akurasi, latihan streng beban dan lamban, kecepatan, kelenturan, kelincahan, keseimbangan, ketahanan dan tata gerak/koordinating.

“Ke empat bentuk pembinaan bela diri dan ke delapan aspek pendukung ini, harus dimiliki oleh setiap pesilat. Sehingga, bila nanti di arena pertandingan atau di arena ujian kenaikan, setiap pesilat mempertunjukkan gerakannya berdasarkan hal-hal itu. Seorang pesilat tidak bisa berjalan sendirian, bila tidak dibekali dengan baik. Sering terdapat kesalahan dari perguruan lain, ketika mengikuti pertandingan. Dimana pesilat yang mewakili perguruannya tidak bisa memenangi pertandingan karena mengabaikan hal-hal di atas. Kalau mau sukses dalam dunia persilatan, pesilat harus tahu hal-hal tersebut di atas,” ucap sang perantau hitam manis asal Flores, NTT, yang telah “dibesarkan” di Jakarta dengan beragam peristiwa, yang juga telah mendewasakan imannya akan Yesus Kristus di dalam pangkuan Gereja Katolik Roma.

Sementara itu, Ketua Kornas THS-THM Yuventus Newin, di sela-sela mengikuti pemaparan yang berlangsung di ruang Petrus, menuturkan bahwa korps yang nantinya mengikuti kegiatan itu akan tetap menjadi satu kesatuan. “Jadi, tidak usah takut. Ketika di lapangan sebagai pelatih ada kendala, dikomunikasikan bersama, sehingga dapat diselesaikan bersama. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membentuk karakter yang baik. Karena nanti kita akan membuka dan melatih di sekolah-sekolah Katolik yang berada di KAJ ini. Pelatih-pelatih THS-THM ini masih muda-muda semua, kader-kader Gereja Katolik Roma ke depannya, sehingga kami mendidik dan melatih mereka secara khusus untuk lebih bisa mandiri dalam organisasi. Dan juga, tidak menutup kemungkinan untuk nantinya bersaing ke level yang lebih tinggi. Siapa tahu di antara mereka ini, kelak menjadi pelatih silat nasional,” pungkasnya.  (Felixianus Ali)